Lengkuas dan Pemanfaatannya

Selamat menyambut tahun baru 2026! Penulisan artikel di blog ini sempat tertunda disebabkan beberapa faktor eksternal dan internal. Faktor internal ini bisa saya sebut sebagai sifat prokrastinasi yaitu menunda-nunda pekerjaan. Dalam hal ini penulis sempat menghadapi masalah dalam merumuskan metode penulisan yang efektif. Setelah membaca buku-buku seperti Atomic Habits dan Learning How to Learn, kini penulis mengetahui teknik yang dapat menghilangkan sifat menunda-nunda. Yang harus kita sadari adalah kewajiban itu merupakan sesuatu yang kadang membosankan atau bukan sesuatu yang benar-benar kita ingin lakukan. Namun, seperti yang diajarkan pada mata pelajaran PKN dahulu, bahwa untuk mendapatkan hak maka seseorang harus menjalankan kewajibannya. Lalu bagaimana kita bisa konsisten menjalankan kewajiban jika itu merupakan sesuatu yang membosankan? Jawabannya terdapat pada diri kita sendiri dan bagaimana kita mendefinisikan motivasi.

Terdapat istilah asing yaitu delusions of grandeur yang jika kita ubah ke bahasa Indonesia itu berarti delusi keagungan. Istilah ini dipakai untuk mendefinisikan seseorang yang menilai diri sendiri lebih tinggi daripada yang seharusnya. Lalu apakah hubungannya dengan motivasi? Seseorang yang dalam delusi akan memilih untuk memiliki motivasi yang mustahil dicapai. Memiliki mimpi tinggi bukanlah hal yang salah namun jika mimpi tinggi tersebut merupakan satu-satunya sumber motivasi maka orang tersebut akan kesulitan dalam menjalankan aktivitas. Mari kita bayangkan saja misalnya kita bermimpi untuk bisa mendapatkan penghargaan Nobel saat masih di bangku SMA dan selama SMA kita belajar terus untuk mencapai mimpi tersebut. Lalu apa yang terjadi setelah lulus SMA? Walaupun masuk ke universitas bagus dan lulus dengan nilai bagus, kita akan kehilangan motivasi untuk terus belajar karena gagal mewujudkan mimpi yang mustahil dicapai. Kunci dari keberhasilan motivasi adalah motivasi tersebut dapat diwujudkan secara realistis oleh kemampuan kita.

Dalam tulisan kali ini saya akan membahas tentang tanaman lengkuas. Tanaman yang tentu saja pembaca merasa akrab terutama jika saat makan rendang dan tidak sengaja tergigit. Jika disuruh orang tua untuk membeli lengkuas, seseorang yang jarang memasak seringkali sulit membedakan jahe dan lengkuas. Keduanya memang berasal dari marga yang sama namun terdapat beberapa perbedaan antara jahe dan lengkuas. Secara tampilan kulit jahe berwarna lebih kecoklatan sementara kulit pada lengkuas berwarna keputihan atau merah. Dari baunya dan rasanya, lengkuas lebih kuat dibandingkan jahe.

 

Apa itu Lengkuas?

Lengkuas yang kita tahu terbagi menjadi lengkuas merah dan lengkuas putih, namun sebenarnya lengkuas atau galangal terbagi lagi berdasarkan jenis dan ukuran. (Alpinia officinarum) atau galangal kecil memiliki tinggi 100-150 cm.  (Alpinia galanga) atau galangal besar memiliki tinggi. Berdasarkan Ravindran dan Balachandran pada tulisannya yang dibuat pada tahun 2012, pedagang tidak terlalu membedakan galangal besar dengan galangal kecil seperti A. officinarum Hance dan A. calcarata Rosc. Lengkuas merah nama ilmiahnya adalah Alpinia purpurata sementara lengkuas putih nama ilmiahnya adalah Alpinia galanga (L.) Willd. Keduanya merupakan familia zingiberaceae  yang berarti mereka satu keluarga dengan tanaman jahe. Nama galangal itu sendiri diambil dari bahasa Arab Khalanjan.

Lengkuas adalah tanaman asli dari Indonesia namun dapat juga ditemukan di negara-negara lain speperti India dan China . Dispekulasi bahwa lengkuas dibawa oleh pedagang rempah ke negara Asia lainnya. Pada zaman kejayaan Islam dahulu di abad ke 13, lengkuas digunakan sebagai herbal untuk mengatasi skiatika,  kolik, dan heartburn. Ahli farmasi dari Andulusia yang bernama Ibn Khalsun merekomendasikan untuk mengkonsumsi lengkuas pada musim dingin . Lengkuas seringkali digunakan sebagai bumbu dalam makanan seperti contohnya pada rendang, ayam goreng, dan sup. Tom Yum, masakan mi pedas asam dari Thailand juga menggunakan lengkuas sebagai salah satu rempah untuk membumbui kuah mi. Di berbagai negara lengkuas memiliki nama uniknya sendiri seperti khaa di negara Thailand. Di negara India, lengkuas digunakan sebagai obat yang diberikan nama raasna.

Lengkuas yang termasuk ke dalam Alpinia Galangal normalnya hanya dapat tumbuh di negara dengan iklim tropis. Di negara yang memiliki iklim ekstrim, galangal hanya dapat tumbuh jika ditanam di dalam ruangan. Galangal tidak dapat bertahan hidup di bawah suhu 15 derajat celcius dan membutuhkan tanah yang dalam serta kaya akan nutrisi untuk dapat tumbuh subur. Tanah dengan besaran 40 liter dibutuhkan agar pertumbuhan rhizoma tidak terhambat. Dibutuhkan juga ph yang cukup yang agak asam untuk mendukung pertumbuhan.

 

Ada Kandungan apa di Dalam Lengkuas?

Lengkuas kering merupakan bahan medis penting di berbagai belahan dunia terutama India dan China. Lengkuas digunakan sebagai stimulan untuk kuda di Arab. Di negara Asia, lengkuas digunakan untuk mengatasi kesulitan mengunyah, diabetes, dan arthritis. Untuk daftar dari manfaat lengkuas dapat dilihat pada gambar berikut:

 

 

sadasddsa

Gambar 1. Tabel komponen lengkuas dan manfaatnya. (Sumber: Ravindran & Balachandran. 2012)

 

Lengkuas memiliki fungsi sebagai antibakteri dengan senyawa antibakteri berasal dari fenol yang juga terdapat pada minyak astiri dan juga memiliki fungsi antijamur. Dikutip lansung dari Badria dkk (2023)  mengenai bahan kimia lengkuas”

“Pada studi kimia yang dilakukan terhadap lengkuas, didapatkan  bahan-bahan seperti flavonoid, rutin, kaempferol-3-rutinoside, dan kaempferol-3-oliucronide. Rimpang lengkuas segar mengandung air sebesar 75%, dalam bentuk kering mengandung karbohidrat 22,4%, protein 3,07%, dan senyawa kamferid 0,07%.”

Lebih jelasnya lagi mengenai manfaat lengkuas sebagai antibakterial dapat dilihat pada penelitian Cheah dan Hasim (2000) mengenai pengaruh lengkuas dengan proses oksidasi lemak daging. Proses oksidasi pada lemak daging membuat daging membusuk dan memberikannya rasa aneh sehingga menjadi tidak dapat dikonsumsi. Pada penelitian yang dilakukan Cheah dan Hasim (2000) ditemukan bahwa ekstrak lengkuas dapat memiliki fungsi antibakterial pada daging yang sudah dimasak namun tidak pada daging mentah, hal ini kemungkinan disebabkan pada daging mentah, jumlah bakteri terlalu banyak untuk dapat dipengaruhi.

 

Pemanfaatan Lengkuas

Indonesia merupakan salah satu negara penghasil rempah-rempah terbesar di dunia. Berdasarkan data yang dikutup dari Nationmaster (2023) pada Nafis dkk (2023), Indonesia menduduki peringkat nomor 4 dibandingkan negara lain dalam produksi rempah-rempah dengan angka 663 Ribu Metrik Ton pada tahun 2019.

Pada tahun 2023, Nafis dkk melakukan pengabdian yang berlokasi di Desa Penimbung di Kecamatan Gunungsari, Kebupaten Lombok Barat. Desa Penimbung memiliki lahan perkebunan lengkuas seluas 1 Hektar dengan produk lengkuas pertahunnya dapat mencapai angka yang cukup besar yaitu 1 ton.

Hasil dari pengabdian untuk membuat produk dari lengkuas menghasilakn dua produk, yaitu lengkuas bubuk halus dan lengkuas bubuk kasar. Lengkuas bubuk halus digunakan sebagai bumbu makanan seperti pada sayur asam sementara lengkuas bubuk kasar digunakan untuk memberikan tekstur renyah kepada makanan seperti pada ayam goreng lengkuas.

Bagi petani atau produsen, produksi bubuk lengkuas dapat menghasilkan keuntungan yang cukup besar. Hal ini disebabkan bubuk lengkuas memiliki umur yang cukup panjang. Masalah yang kerap dihadapi petani yang menjual produk lengkuas mentah adalah umur lengkuas yang pendek sehingga jika lengkuas menjadi buruk sebelum mencapai pasar, seringkali lengkuas dibuang oleh produsen.

Selain Nafis dkkk (2023) dilakukan juga pengabdian oleh Pebriani dkk (2025). Berlokasi di Desa Sei Selincah, Kecamatan Kalidoni, Kota Palembang, Sumatera Selatan Masyarakat lokal menjual lengkuas pada bentuk segar ke pasar di Kota Palembang. Memiliki lahan 15 hektare dan menghasilkan 1 ton lengkuas setiap 6 bulan pertama dan selanjutnya dapat dihasilkan setiap 3 bulan. Tujuan dari pengabdian adalah untuk membantu masyarakat lokal memanfaatkan lengkuas dalam penjualan.

Dalam mengedukasi masyarakat desa, langkah yang diambil memiliki tahap yaitu sosialisasi, pendampingan, pelatihan, monitoring, dan evaluasi. Tahapan ini perlu dilakukan agar kelompok masyarakat bisa independen dalam melakukan proses pengolahan dan pemasaran produk. Pada tahap pelatihan selain diajarkan cara mengolah dan mengemas produk, dilatih juga cara pemanfaatan platform online seperti tokopedia dan shopee untuk penjualan. Produk yang dihasilkan dari mengolah lengkuas adalah tepung lengkuas dan lengkuas serundeng

Untuk contoh pengabdian yang ketiga dilakukan yang oleh Ayuningtyas dkk (2024) dan berlokasi di Desa Batok, Kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Desa Batok memiliki sawah seluas 1 juta 700 hektar.

Berbeda dari pengabdian sebelumnya yang berfokus pada lengkuas sebagai rempah, pada pengabdian ini berfokus kepada sifat lengkuas sebagai herbal. Produk yang dikembangkan adalah disinfetkan dan balsam stik. Berhasil diajarkan cara pembuatan kedua produk kepada masyarakat lokal namun ditemukan bahwa masyarakat masih belum terlalu paham cara kerja lengkuas sebagai disinfetkan. Untuk balsam stik masyarakat mengetahui secara jelas cara kerjanya dan cara pembuatannya. Formula komponen kedua produk dapat dilihat pada gambar di bawah:

 

sdadsasdawsaddsa

Gambar 2. Komponen Disinfetkan dan Balsam Stik (Sumber: Ayuningtyas dkk. 2024)

 

 

Daftar Pustaka

Ahmad, A., Riaz, S., Farooq, R., Ahmed, M., & Hussain, N. (2023). Alpinia officinarum (galangal): A beneficial plant. J. Med. Public Health, 4, 1057.

Ayuningtyas, N. D., Hardy, J., Pramitaningastuti, A. S., Pranasti, E. A., Santoso, F. R. C., & Setiawan, B. (2024). Edukasi Pemanfaatan TOGA dan Pembuatan Produk Disinfektan serta Balsam Stik Berbahan Dasar Lengkuas. Jurnal Empathy Pengabdian Kepada Masyarakat, 48-55.

Badria, S. U., Amiriyah, D., Fazrani, Y. A., Rahmadani, A. F., & Faisal, F. (2023). Uji Efektivitas Ekstrak Lengkuas (Alpinia galanga L.) terhadap Daya Hambat Pertumbuhan Bakteri Eschericia Coli. Era Sains: Jurnal Penelitian Sains, Keteknikan dan Informatika, 1(4), 21-27.

Brin. (2025). Galangal Has Potential as a Raw Material for Medicine. Link akses: https://www.brin.go.id/en/news/124989/galangal-has-potential-as-a-raw-material-for-medicine.

Cheah, P. B., & Abu Hasim, N. H. (2000). Natural antioxidant extract from galangal (Alpinia galanga) for minced beef. Journal of the Science of Food and Agriculture, 80(10), 1565-1571.

Grieve, M. Galangal. Link akses: https://botanical.com/botanical/mgmh/g/galang01.html.

Kompas TV. (2023). Belum Banyak Orang Tahu, Ini Manfaat Air Rebusan Lengkuas untuk Kesehatan dan Cara Membuatnya! Link akses: https://www.kompas.tv/lifestyle/463427/belum-banyak-orang-tahu-ini-manfaat-air-rebusan-lengkuas-untuk-kesehatan-dan-cara-membuatnya.

La Fancy. (2025). Bumbu Rempah Lengkuas, Keunikan di Dapur Nusantara. Link akses: https://www.lafancyfoods.com/bumbu-rempah-lengkuas/.

Nafis, R., Oktaviani, A., Febrianti, D., Maulida, P., & Sukarso, A. A. (2023). Pengolahan lengkuas menjadi lengkuas bubuk untuk mengoptimalkan pemanfaatan lengkuas di desa Penimbung, kec. Gunung Sari, Lombok Barat. Jurnal Wicara Desa, 1(2), 190-199.

Newman, D. (2020). Spotlight on: Galangal, galingale. Link akses: https://eatlikeasultan.com/galangal-galingale/.

Pebriani, R. A., Praditya, N. W. P. Y., Aprillia, I., Anastasya, M., & Putri, W. N. (2025). Diversifikasi Produk Lengkuas Untuk Mewujudkan Kemandirian Berwirausaha di Era Milenial Pada POKDARWIS Sungai Jawi. Jurnal Abdimas Mandiri, 9(3), 403-409.

Ravindran, P. N., Pillai, G. S., Balachandran, I., & Divakaran, M. (2012). Galangal. In Handbook of herbs and spices (pp. 303-318). Woodhead Publishing.

Regina. Galangal: cultivation, uses & flavour. Link akses: https://plantura.garden/uk/vegetables/galangal/galangal-overview.