Tahukah Anda Khasiat Temu Mangga ini?

Bagaimana sahabat semua? Pasti sudah tidak sabar ya karena sebentar lagi bulan Desember akan selesai dan 2026 akan segera datang. Di nataru 2025 ini, pastinya kita memiliki resolusi sendiri-sendiri untuk menyambut tahun baru. Resolusi ini seperti kita seakan menjadi mantan petinju yang harus menghadapi kehidupan setelah pensiun dan melihat dunia dari sisi lain. Dalam melihat dunia tersebut marilah kita agak terbuka mau itu fans Persija Jakarta atau fans Bhayangkara FC, 3-0 itu hanyalah kejadian sesaat! Apakah mau membeli mobil baru? Apakah ingin keterima masuk CPNS, Akpol, Brimob, ataukah BUMN di 2026 nanti? Apakah ingin bisa selalu sehat dan terhindar dari kecelakaan maut? Atau mungkin saja ingin hal yang simpel saja seperti ingin bisa jalan kaki lebih banyak di tahun depan. Apapun resolusi anda untuk 2026, tidak ada resolusi yang tidak benar, selama anda memiliki semangat untuk memperbagus kehidupan maka itu adalah pilihan yang benar.

Untuk menjalankan resolusi yang dibutuhkan bukanlah hal fantasis seperti kepintaran atau kekuatan mental yang tidak pernah rubuh. Hal terpenting dalam menjalankan resolusi tahun baru adalah konsistensi. Orang-orang sering salah kaprah mengenai konsistensi karena mereka berpikir bahwa konsistensi berarti menjalankan semua hal sesuai rencana dengan sempurna. Tentu saja pemikiran tersebut tidak sepenuhnya salah, namun manusia itu tidak dapat mengetahui masa depan sehingga keadaan sempurna hampir tidak pernah terjadi. Konsistensi yang sebenarnya adalah menjalankan usaha walau keadaan tidak sempurna sekalipun. Mau kita capek, mau kita mager, jika kita ingin mempertahankan konsistensi maka kita harus terus mendorong untuk melakukan usaha dengan melawan rasa tidak ingin melakukan. Menunggu kesempatan sempurna untuk bertindak bukanlah tindakan yang bijak karena bisa saja kita akan selamanya menunggu. Ada sebuah quotes yang penulis temukan sangat menarik dari internet. Bunyi quotes tersebut adalah “lawan dari rencana yang sukses bukanlah rencana yang gagal melainkan rencana yang sempurna”. Ada sebuah istilah yang disebut decision paralysis itu berarti bahwa seseorang karena diberikan banyak pilihan, ia jadi tidak bisa membuat keputusan satupun disebabkan ketakutannya akan membuat keputusan yang salah. Namun, jika kita ingin maju di tahun 2026 ini maka kita harus membuat keputusan dan bersiap-siap menerima konsekuensinya mau itu buruk atau baik. Manusia hanya bisa berusaha sementara Tuhan lah yang menentukan hasil.

Salah satu resolusi tahun baru yang paling populer adalah untuk jadi makin rajin atau makin mahir dalam belajar. Hal ini tentu saja dipengaruhi oleh faktor penduduk di dunia di mana angka penduduk yang masih diharuskan menjalankan pendidikan wajib berjumlah cukup besar. Tentu saja bagi mereka yang sudah di luar umur pendidikan wajib, bukan berarti mereka tidak harus belajar. Belajar bukanlah sesuatu yang ada akhirnya dan bukanlah sesuatu yang benar-benar bisa kita capai. Belajar lebih benar dilihat sebagai suatu proses dalam kehidupan untuk terus menerus menggali ilmu pengetahuan dan mengaplikasikannya kepada kehidupan nyata. Sehingga untuk tema pada blog ini, penulis akan berfokus untuk memberikan info-info tentang kesehatan agar pembaca bisa belajar sambil santai tiduran membaca di handphone. Topik hari ini adalah tanaman temu mangga. Apakah tanaman temu mangga itu? Apakah khasiatnya? Pertanyan-pertanyaan tersebut akan dikupas tuntas di tulisan ini.

 

Apa itu Temu Mangga dan Klasifikasinya

 

Temu mangga mendapatkan nama tersebut karena jika diiris maka akan keluar aroma mangga dari tanaman tersebut. Nama ilmiah dari temu mangga adalah Curcuma amada. Untuk lebih detailnya mengenai taksonomi dari Curcuma amada, tanaman marga curcuma berasal dari daerah Benua India, Australia Utara, China Selatan, Asia Tenggara, dan Papua Nugini.  Samant (2012) mengklasifikasi Curcuma amada pada sistem taksonomi sebagai berikut:

 

Kerajaan : Plantae

Sub-kerajaan : Phanerogamae

Divisi : Spermatophyta

Subdivisi : Angiospermae

Kelas : Monocotyledonae

Seri : Epigynae

Bangsa : Scitaminales

Famili : Zingiberaceae

Marga : Curcuma

 

Taksonomi atau klasifikasi pada tanaman memiliki fungsi yang sangat penting untuk menentukan asal-usul tanaman secara spesifik. Kerajaan plantae mencakup seluruh tumbuhan kecuali jamur dan sub-kerajaan phanerogamae merujuk kepada jenis tanaman yang memiliki biji. Divisi spermatophyta merujuk kepada tumbuhan yang berkembang biak dengan biji, spermatophyta ini dapat terbagi lagi menjadi dua jenis yaitu gymnospermae (tumbuhan berbiji terbuka) dan angiospermae (tumbuhan berbiji tertutup). Angiospermae memiliki biji tertutup dan mayoritas tanaman yang memiliki bunga termasuk kepada subdivisi ini. Fosil polen angiospermae tertua ditemukan pada 134 juta tahun yang lalu di zaman kapur. Setelahnya angiospermae mendominasi dunia tanaman, kira-kira  300.000 dari spesies tanaman sekarang termasuk ke dalam angiospermae. Misteri bagaimana angiospermae dapat mendominasi dunia tanaman padahal subdivisi ini baru muncul sekitar 134 juta tahun lalu sementara gymnospermae sudah muncul sekitar 300 juta tahun yang lalu sempat membuat Darwin kebingungan dan ia menyebut misteri tersebut sebgai sebuah misteri yang keji karena mengancam teori evolusinya saat itu.

Berlanjut lagi mengenai topik klasifikasi, angiospermae dapat terbagi menjadi 2 jenis berdasarkan jenis bijinya yaitu monocotyledone (berkeping satu) dan dycotyledone (berkepeing dua). Epigynae merujuk kepada posisi bunga di mana seperti bisa dilihat pada ilustrasi di bawah.

 

ovary position

(Gambar 1. Bunga di kiri adalah contoh Epigynea. Sumber: sweetgum.nybg.org)

 

Tanaman epigynae5 memiliki bagian-bagian bunga terdapat di atas ovari. Bangsa Scitaminales sekarang sudah diubah nama menjadi Zingiberales, bangsa Zingiberales sendiri dibagi lagi menjadi 4 yaitu Heliconiaceae (heliconias), Zingiberaceae (true gingers), Costaceae (spiral gingers) and Marantaceae (prayer plants). Temu mangga termasuk ke dalam Zingiberaceae yang berarti temu mangga termasuk ke dalam jenis jahe dan ciri khas dari marga curcuma adalah memiliki rhizoma yang bisa dimakan, rhizoma atau buah di dalam tanah itulah yang nanti dipanen sebagai temu mangga.

 

Temu Mangga sebagai Antioksidan

 

Temu mangga memiliki berbagai macam manfaat disebabkan kandungan kurkumin, amilum, gula, saponin, flavonin dan protein toksik amilum yang ada di dalamnya (Hartono, 2022).   Salah satu peran penting temu mangga adalah fungsinya sebagai antioksidan dalam mengurangi radikal bebas. Radikal bebas adalah sebutan untuk molekul yang tidak stabil entah karena kelebihan atau kekurangan elektron. Molekul tidak stabil ini jika dibiarkan akan dapat merusak tubuh dalam proses yang disebut stress oksidatif. Stress oksidatif dapat menyebabkan berbagai penyakit seperti kanker dan penyakit jantung (Maryam. 2020).  Untuk melawan stress oksidatif, tubuh secara internal dapat membuat antioksidan dan secara eksternal tubuh juga mampu mendapatkan antioksidan dengan mengkonsumsi makanan atau minuman yang memiliki kandungan tersebut.

Kandungan antioksidan pada temu mangga berasal dari flavonoid dan kandungan flavonoid pada temu mangga terhitung tinggi (Susiloningrum & Sari. 2021). Normalnya temu mangga dikonsumsi dengan sebagai minuman dan pada beberapa daerah, temu mangga dikonsumsi sebagai jamu setelah dicampurkan bahan kunyit putih (Hartono. 2022). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Ariviani et all pada tahun 2013 di mana dicari rasio antara jumlah optimal campuran temu mangga dengan air yang menghasilkan antioksidan terbanyak. Ditemukan bahwa rasio temu mangga dan air berupa 1:10 menghasilkan antioksidan terbanyak yang mana lebih efektif untuk menangkap radikal bebas. Untuk lebih detailnya bisa dilihat pada tabel di bawah.

 

dsasa

(Gambar 2. Tabel rasio air dan temu mangga. Sumber: Ariviani et all, 2013)

 

 

Temu Mangga dalam Dunia Kosmetik dan Kandungan Anti Pembengkakan

 

Salah satu spesies radikal bebas yang terpenting adalah oksigen dan spesies oksigen untuk radikal bebas memiliki sebutan yaitu ROS (reactive oxygen species). ROS diproduksi pada proses metabolisme sel dan memiliki keuntungan serta keburukan bagi tubuh (De Palma & Clementi. 2014). Stress oksidatif adalah contoh dari konsentrasi ROS yang terlalu banyak disebabkan tubuh tidak dapat membuat antioksidan yang cukup. Stress oksidatif berkonstribusi sebagai salah satu faktor pada penuaan. Pada tahun 2020 dilakukan penelitian oleh Pujimulyani et all mengenai efektivitas ekstrak temu mangga dalam dunia kosmetik untuk menekan penuaan kulit. Penuaan ditandai oleh diproduksinya banyak sitokin yang memerintahkan pembengkakan (Michhaud et all. 2013). Pembengkakan tersebut kemudian akan menyebabkan penurunan kolagen  dengan sitokin memerintahkan enzim MMP1, MMP13, dan MMP3 untuk melakukan aksi pembengkakan. Aksi pembengkakan disebabkan salah satunya oleh stress oksidasi. Penggunaan ekstrak temu mangga terbukti dapat menekan ekspresi enzim pembengkakan dengan mengurangi stress oksidasi sehingga terjadi pengurangan untuk degradasi kolagen. Proses bagaimana ekstrak temu mangga dapat membantu mengatasi degradasi kolagen dapat dilihat pada diagram yang dilampirkan.

 

sadsad

(Gambar 3. Diagram Mengenai Manfaat Ekstrak Temu Mangga. Sumber: Pujimulyani et all, 2020)

 

 

Daftar Sumber

 

Ariviani, S., Andriani, M. A. M., & Yani, F. (2013). Potensi temu mangga (Curcuma mangga Val.) sebagai minuman fungsional. Jurnal Teknosains Pangan, 2(3).

Central For Plant Conservation (CPC). (2020). What is Darwin’s “abominable mystery?”. Link akses: https://saveplants.org/what-is-darwins-abominable-mystery/.

De Palma, C., & Clementi, E. (2014). Reactive Species and Mechanisms of Cell Injury. In Pathobiology of Human Disease: A Dynamic Encyclopedia of Disease Mechanisms (pp. 88-96). Elsevier.

GBIF. Angiosperms. Link akses: https://www.gbif.org/species/113551078.

Hartono, L. W. (2022). Kualitas jamu kunyit putih berbahan campuran temu mangga: The quality of white turmeric herbal medicine with a mixture of mango ginger. Jurnal Ilmiah Pariwisata dan Bisnis, 1(7), 1911-1921.

Maryam, S. (2021, March). Antioxidant activity and total fenol content white saffron (Curcuma mangga Val). In IOP Conference Series: Materials Science and Engineering (Vol. 1115, No. 1, p. 012081). IOP Publishing.

Michaud, M., Balardy, L., Moulis, G., Gaudin, C., Peyrot, C., Vellas, B., & Nourhashemi, F. (2013). Proinflammatory cytokines, aging, and age-related diseases. Journal of the American Medical Directors Association, 14(12), 877-882.

Nandy. Spermatophyta. Link akses: https://www.gramedia.com/literasi/spermatophyta/.

NYBG. Epygenous Ovary. Link akses: https://sweetgum.nybg.org/science/glossary/glossary-details/?irn=1906.

Pujimulyani, D., Suryani, C. L., Setyowati, A., Handayani, R. A. S., Arumwardana, S., Widowati, W., & Maruf, A. (2020). Cosmeceutical potentials of Curcuma mangga Val. extract in human BJ fibroblasts against MMP1, MMP3, and MMP13. Heliyon, 6(9).

Ruangsang, P., Tewtrakul, S., & Reanmongkol, W. (2010). Evaluation of the analgesic and anti-inflammatory activities of Curcuma mangga Val and Zijp rhizomes. Journal of Natural Medicines, 64(1), 36-41.

Susiloningrum, D., & Sari, D. E. M. (2021). Uji aktivitas antioksidan dan penetapan kadar flavonoid total ekstrak temu mangga (Curcuma mangga Valeton & Zijp) dengan variasi konsentrasi pelarut. Cendekia Journal of Pharmacy, 5(2), 117-127.

Unacademy. (2025). Phanerogams. Link akses: https://unacademy.com/content/neet-ug/study-material/biology/phanerogams/#:~:text=Phanerogams%20are%20plants%20that%20bear,the%20stem%2C%20and%20the%20leaves.

Yuandani, Y., Dalimunthe, A., Hsb, P. A. Z., & Septama, A. W. (2011). Uji aktivitas antikanker (preventif dan kuratif) ekstrak etanol temu mangga (Curcuma mangga Val.) pada mencit yang diinduksi siklofosfamid. Majalah Kesehatan Pharmamedika, 3(2), 255-259.